
Nama : Rahman Hendarsyah
Nama cayang : Rahman
Data terbaru : ???
Komen :
Pria dengan suaranya yang khas*serak-serak fals* ini adalah salah satu partner wd pada saat penyusunan skripsi. Dengan kumis tipis, berbadan tegap dan senyum yang menawan, banyak yang mengira rahman adalah mahasiswa Akademi Kepolisian yang nyasar di kimia unpad.
Karena suratan takdir Illahi, maka suatu hari di kota Bandung, kami : Dwi-Acay, Wd dan Rahman bertemu dan membicarakan masa depan kita di kimia’95 setelah mengetahui bahwa dosen pembimbing skripsi adalah yang tercinta Bapak Oom*dosen BIOKIM* yang berkumis tebal, rambut ikal tipis, berbadan kurus dan sering membuat kita menunggu berjam-jam untuk bimbingan dengannya.
Untuk menekan biaya skripsi, salah satunya yang mahal adalah bahan kimia, maka berangkatlah kami dengan tekad baja dan muka tebal ke LIPI Cisitu untuk ‘menawarkan diri’ menjadi salah satu mahasiswa yang di perbudak untuk menjadi pembantu para peneliti LIPI untuk melakukan percobaan dan proyek dengan kompensasi, bahwa hasil penelitian tersebut dianggap sebagai skripsi*salah satu contoh simbiosis mutulaisme di jaman perkuliahan*. Berhubung kesibukan ga jelas dan tidak sinkron dari 3 orang ini, akhirnya penelitian dilakukan sendiri-sendiri dan jadilah wd lulus duluan*Acay kalo ditelp lagi tidur mulu sih, rahman sibuk ga jelas*
Nama cayang : Rahman
Data terbaru : ???
Komen :
Pria dengan suaranya yang khas*serak-serak fals* ini adalah salah satu partner wd pada saat penyusunan skripsi. Dengan kumis tipis, berbadan tegap dan senyum yang menawan, banyak yang mengira rahman adalah mahasiswa Akademi Kepolisian yang nyasar di kimia unpad.
Karena suratan takdir Illahi, maka suatu hari di kota Bandung, kami : Dwi-Acay, Wd dan Rahman bertemu dan membicarakan masa depan kita di kimia’95 setelah mengetahui bahwa dosen pembimbing skripsi adalah yang tercinta Bapak Oom*dosen BIOKIM* yang berkumis tebal, rambut ikal tipis, berbadan kurus dan sering membuat kita menunggu berjam-jam untuk bimbingan dengannya.
Untuk menekan biaya skripsi, salah satunya yang mahal adalah bahan kimia, maka berangkatlah kami dengan tekad baja dan muka tebal ke LIPI Cisitu untuk ‘menawarkan diri’ menjadi salah satu mahasiswa yang di perbudak untuk menjadi pembantu para peneliti LIPI untuk melakukan percobaan dan proyek dengan kompensasi, bahwa hasil penelitian tersebut dianggap sebagai skripsi*salah satu contoh simbiosis mutulaisme di jaman perkuliahan*. Berhubung kesibukan ga jelas dan tidak sinkron dari 3 orang ini, akhirnya penelitian dilakukan sendiri-sendiri dan jadilah wd lulus duluan*Acay kalo ditelp lagi tidur mulu sih, rahman sibuk ga jelas*
0 komentar:
Posting Komentar